Kalau ngomongin Python, mungkin sebagian dari kita langsung kepikiran bahasa pemrograman yang lagi naik daun. Tapi, pernah nggak sih kamu mikir, sebenarnya apa itu Python dan kenapa bahasa ini dibuat? Yuk, kita ngobrol santai seperti lagi ngoprek di garasi, sambil bedah cerita historis dan filosofi di balik si Python yang keren ini.
1. Dari Mana Asalnya Python?
Python diciptakan oleh Guido van Rossum pada akhir 1980-an, tepatnya tahun 1989 di Belanda. Guido saat itu ingin bikin bahasa pemrograman yang mudah dipelajari, fleksibel, dan mempercepat pekerjaan programmer tanpa ribet. Ibaratnya, seperti mau bikin mesin modifikasi motor yang bisa dipakai semua orang, dari pemula sampai yang sudah expert.
Python lahir karena ingin mengisi celah bahasa pemrograman yang “terlalu kompleks” dan sulit dibaca. Jadi, fokus utama Python adalah ke-bersahaja-an pengkodean — clean code, mudah baca, dan gampang dipahami.
2. Filosofi di Balik Python
Python nggak cuma soal sintaks yang simple. Filosofi di baliknya mirip seperti filosofi teknisi otomotif: “Jangan bikin rumit kalau bisa dibuat sederhana.” Guido menulis “The Zen of Python”, sejenis aturan main yang ngasih petunjuk gimana cara menulis kode yang idiomatik dan elegan.
Salah satu Zen itu bilang:
“Readability counts” — kode harus enak dibaca, seperti sketsa desain mod yang jelas dan terukur.
Ini bikin Python populer nggak cuma di kalangan developer tapi juga pelajar, peneliti, dan bahkan para penggemar otomotif yang belajar algoritma dan alat monitoring kendaraan.
3. Contoh Dasar: Kenalan dengan Python lewat JavaScript
Supaya makin nyambung, kita bakal coba analogi sederhana pakai JavaScript. Misal kamu mau kasih instruksi ke komputer: tampilkan salam “Halo Dunia!”
// Contoh paling dasar: tampilkan pesan ke konsol
console.log("Halo Dunia!");
Di Python, kode semacam itu pun sangat simple:
print("Halo Dunia!")
Kalau bahasa lain, kadang harus bikin banyak aturan atau kode boilerplate yang bikin pusing, seperti harus bongkar mesin motor dulu sebelum ganti oli.
4. Cara Python Membantu Problem Algoritma
Bayangin kamu mau menyelesaikan masalah algoritma sederhana, misalnya memeriksa apakah suatu angka termasuk genap atau ganjil. Di JavaScript bisa kita tulis seperti berikut:
function cekGenap(angka) {
return angka % 2 === 0; // true jika genap, false jika ganjil
}
console.log(cekGenap(10)); // true
console.log(cekGenap(7)); // false
Python sebenarnya mendukung pola pikir yang sama, tapi lebih memungkinkan kamu fokus ke logika tanpa harus mikirin sintaks terlalu rumit. Filosofi minimalis ini memudahkan belajar algoritma, khususnya untuk pemula.
5. Masa Depan: Dari Garasi ke Algoritma
Python berkembang pesat hingga sekarang, dipakai di segala bidang mulai dari pengembangan web, AI, data science, sampai otomasi kendaraan. Bahasa ini ibarat garasi yang siap jadi workshop untuk segala jenis project, apapun tingkat modifikasinya.
Kesimpulannya, Python lahir dari kebutuhan akan bahasa yang mudah, bisa dimengerti semua kalangan, dan punya filosofi kuat untuk menulis kode yang bersih dan efisien. Kalau kamu pemula atau sedang berproses memahami algoritma, Python layak jadi teman setiamu.
Kalau mau ngulik lebih dalam, jangan lupa coba langsung praktek pakai kode JavaScript sederhana di atas sebagai pemanasan berpikir algoritma sebelum melangkah ke bahasa lain seperti Python.





